Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Pernah ngerasa jadi anak SMP yang biasa-biasa aja? Nggak punya ribuan followers, bukan anak populer, atau langganan juara kelas? Santai, kamu sama sekali nggak sendirian. Sering kali kita mikir buat bikin perubahan besar itu butuh kekuatan super, harus viral, atau nunggu dewasa dulu. Tapi, ada satu rahasia besar yang mau dibongkar di bulan Oktober ini. Sesuai dengan tema Bulan Rosario Keuskupan Surabaya tahun ini, "Spill The Secret With Holy Mary: Cara Remaja Biasa Mengubah Dunia", ternyata kita bisa bawa perubahan besar dari tindakan yang super simpel.
Mundur sebentar ke tahun 1917 di sebuah daerah bernama Fatima. Di tengah Perang Dunia I, ada tiga anak gembala biasa yang bersahaja: Lucia (10 tahun), Francisco (9 tahun), dan Jacinta (7 tahun). Mereka ini masih seumuran anak SD sampai SMP, belum lancar membaca dan menulis, serta kerjaannya cuma menggembalakan ternak sambil membiasakan diri mendaraskan doa secara singkat. Tapi, luar biasanya, Bunda Maria justru memilih menampakkan diri dan memberikan pesan rahasia kepada mereka. Perjalanan mereka nggak mulus. Saat berita penampakan ini tersebar, banyak orang nggak percaya. Pejabat setempat bahkan sampai menculik dan memasukkan mereka ke penjara, mengintimidasi, serta mengancam supaya ketiga anak ini mengaku berbohong. Mirip banget kan sama kehidupan sekolah sekarang? Kadang saat kita mau berbuat jujur atau menolak ikutan nakal, kita malah dijauhi circle pertemanan dan dianggap "sok suci". Tapi, ketiga anak gembala ini, meskipun menangis ketakutan, tetap teguh pendirian dan menolak membuka rahasia.
Lalu, apa relate-nya sama masa muda kita sekarang dan hal baru apa yang bisa kita coba lakukan di bulan Rosario ini?
Yang pertama nih, siapa bilang doa itu harus pakai bahasa kaku yang panjang lebar? Kadang kita paling takut kalau tiba-tiba ditunjuk suruh memimpin doa di kelas karena merasa bahasanya pasti belepotan dan memalukan. Coba ubah mindset kamu sekarang. Kita bisa dan boleh lho nge-chat Tuhan bagaikan bestie kita. Doa itu sebenarnya cara kita menghubungkan diri dengan Tuhan, ibarat kamu lagi mengetik pesan WhatsApp ke orang tua atau sahabat. Nggak usah jaim, ceritakan saja keadaan kita apa adanya. Mau curhat soal ulangan matematika yang bikin overthinking, masalah pertemanan, cita-cita, atau rasa capek sekolah, sampaikan saja. Kalau bingung mau ngomong apa, mulai saja dengan membiasakan diri mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria secara sederhana, persis seperti tiga anak Fatima.
Berikutnya, masa SMP itu masa pencarian jati diri yang bikin kita gampang banget menuntut diri sendiri untuk menjadi seperti orang lain supaya diterima di circle pertemanan. Bulan Rosario ini saatnya upgrade diri; waktunya kita mencoba rumus Stop, Continue, Start. Beranikan diri untuk STOP kebiasaan yang menjauhkan diri dari Tuhan, kayak ikut-ikutan bullying, menggibah teman, atau memanggil teman dengan nama orang tuanya. CONTINUE alias pertahankan kebiasaan bagus yang sudah jalan, misalnya mendampingi adik BIAK atau rajin ikut pertemuan Rekat. Terakhir, START kebaikan baru yang selalu tertunda, misalnya mulai mencuci baju sendiri atau berani masuk komunitas Gereja.
Ketiga, berkorban buat orang lain kedengarannya berat banget. Padahal, kita bisa mulai merelakan hal-hal kecil seperti mengorbankan waktu, tenaga, atau kenyamanan kita demi membantu orang lain. Nggak melulu harus punya uang saku lebih buat berbuat baik. Misalnya, merelakan waktu main game karena ibu minta tolong menjaga adik, memilih diam saat ingin membalas omongan teman yang menyakitkan, atau menolak berbohong pada guru demi menyelamatkan kelompok dari hukuman. Ini disebut sebagai "silih", yaitu bentuk pengorbanan dan tindakan nyata dari kasih tulus untuk kebaikan di tengah godaan untuk bersikap egois. So, jangan ragu untuk keluar dari zona nyaman.
Yang terakhir, yuk kita sadari. Bunda Maria di Fatima berulang kali meminta umatnya untuk berdoa Rosario setiap hari bagi perdamaian dunia dan agar perang segera berakhir. Sebagai anak SMP, menghentikan perang militer antarnegara mungkin terdengar mustahil. Tapi, kita bisa banget menghentikan "perang" kebencian di sekolah dan media sosial. Kita bisa jadi pembawa damai dengan cara: nggak membalas dendam pas disakiti, mau mendengarkan, berani minta maaf duluan, dan nggak ikut menyebarkan gosip murahan. Pembawa damai itu bukan orang yang pasif menunggu suasana tenang, tapi justru mereka yang berani memulai perdamaian itu sendiri. Saatnya kita jadi agen anti-drama.
Bulan Rosario bukan cuma sekadar rutinitas memutar biji kalung. Ini adalah momen pembuktian kalau remaja Katolik punya peran besar buat mengubah keadaan. Kita nggak harus mengubah dunia dan melakukan pencapaian yang spektakuler. Perubahan sejati selalu dimulai dari hatimu yang mau berdoa saat ditimpa masalah, tetap jujur saat diajak berkompromi, menghentikan perundungan, dan siap menjadi sahabat bagi mereka yang sedang merasa sendirian. Sederhana kan?