Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris, Minggu (17/05/26) merupakan momen refleksi yang sangat berharga. Bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas), kita diajak untuk menoleh sejenak pada sejarah panjang peradaban literasi sekaligus mengevaluasi kedekatan kita dengan buku di tengah gempuran era digital.
Peringatan Harbuknas yang jatuh setiap tanggal 17 Mei ini pertama kali dicetuskan pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar. Pemilihan tanggal tersebut merujuk pada momentum bersejarah berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 17 Mei 1980. Sejak saat itu, Harbuknas diperingati sebagai pengingat tahunan akan pentingnya buku dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang secara historis masih tergolong rendah.
Dalam dunia akademik, buku memegang peran yang sangat sakral sebagai fondasi utama keilmuan. Buku adalah jendela dunia sekaligus jembatan emas yang menghubungkan pemikiran para ilmuwan lintas generasi. Lewat lembaran buku, teori-teori ilmiah didokumentasikan secara terstruktur, diuji, dan diwariskan untuk kemajuan peradaban manusia. Tanpa adanya buku, transfer ilmu pengetahuan akan terputus, dan perkembangan sains maupun humaniora akan mandek. Bagi para siswa, membaca buku bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sarana krusial untuk melatih ketajaman berpikir kritis, memperluas kosakata, serta memperdalam pemahaman konseptual yang tidak bisa didapatkan secara instan.
Namun, realitas data menunjukkan tantangan besar bagi literasi remaja saat ini. Berdasarkan rapor pendidikan tingkat SMP dari tahun-tahun sebelumnya, kemampuan literasi siswa di Indonesia secara umum masih menunjukkan fluktuasi yang perlu mendapat perhatian serius. Banyak siswa yang baru mencapai tingkat kompetensi minimum, di mana mereka mampu membaca teks tetapi belum sepenuhnya terampil dalam menganalisis atau merefleksikan isi bacaan secara mendalam.
Tantangan terbesar yang dihadapi remaja masa kini tidak lain adalah kehadiran teknologi, mulai dari gadget, media sosial, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan segala hal secara instan. Remaja hari ini lebih terbiasa mengonsumsi konten video berdurasi pendek yang serbacepat atau mengandalkan AI untuk merangkum informasi tanpa proses membaca secara utuh. Akibatnya, daya konsentrasi (attention span) para remaja menurun drastis, membuat mereka cepat merasa bosan, lelah, atau malas ketika dihadapkan pada lembaran buku cetak yang tebal dan membutuhkan fokus tinggi.
Menyikapi fenomena global ini, sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia menerapkan strategi unik untuk memikat remaja agar kembali membaca. Di beberapa sekolah di Eropa dan Amerika Serikat, diterapkan metode Silent Sustained Reading (SSR) atau membaca mandiri tanpa suara, di mana sekolah mendedikasikan 15 menit setiap harinya khusus untuk membaca buku fisik pilihan siswa sendiri tanpa intervensi tugas atau gawai. Sementara itu, sekolah-sekolah di Jepang membudayakan gerakan "Membaca Pagi" sebelum jam pelajaran dimulai demi melatih ketenangan pikiran anak. Di belahan dunia lain, perpustakaan sekolah bertransformasi dengan mengikuti tren populer remaja, seperti menyediakan sudut khusus “BookTok” (rekomendasi buku yang sedang viral di media sosial) serta menggelar “Book Tasting” layaknya mencicipi menu makanan, di mana siswa bergantian menjelajahi bab pertama dari berbagai genre buku.
Dengan memahami bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu dan bukan pengganti buku, diharapkan generasi Alpha dapat tumbuh tidak hanya mahir mengoperasikan gawai, tetapi juga tetap mencintai buku demi masa depan keilmuan yang kokoh.