Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris, Senin (01/06/26) merupakan hari yang sarat akan makna bagi seluruh warga SD dan SMP Santa Maria Sidoarjo. Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, atmosfer sekolah diselimuti semangat nasionalisme yang berpadu indah dengan spiritualitas kekeluargaan. Upacara bendera yang digelar di lapangan sekolah berlangsung dengan sangat khidmat. Menariknya, peringatan tahun ini tidak hanya mengajak para siswa untuk menghafal kelima sila, tetapi juga merefleksikan sebuah fakta historis yang mengagumkan: jauh sebelum Pancasila dirumuskan oleh para pendiri bangsa pada tahun 1945, nilai-nilai luhur dasar negara tersebut ternyata sudah dihidupi dan diwariskan oleh Santa Angela Merici sejak tahun 1539 melalui Nasihat (Consigli) dan Warisan (Ricordi)-nya bagi Komunitas Ursulin.
Hubungan antara Nasihat Santa Angela dan Pancasila bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bukti bahwa nilai kebaikan, kemanusiaan, dan persatuan bersifat universal serta abadi melintasi zaman. Jika ditelaah lebih dalam, butir-butir dalam Pancasila sangat selaras dengan petuah yang ditulis tangan oleh Santa Angela hampir lima abad yang lalu.
Pada Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila mengajak seluruh warga negara untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Hal ini sangat sejalan dengan Nasihat Pembuka dari Santa Angela yang mengingatkan kita untuk selalu mengandalkan Allah dalam setiap langkah. Beliau menuliskan: "Taruhlah seluruh harapan dan cinta kasih Anda hanya kepada Allah, dan tidak kepada makhluk hidup mana pun." (Nasihat Pembuka).
Selanjutnya, Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, menemukan sauhnya dalam konsep hidup berdampingan yang rukun, saling menghargai, dan penuh kasih. Santa Angela sangat menekankan pentingnya keramahan, kelembutan, dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan. Karakteristik bangsa Indonesia yang bergotong-royong dan bersatu dalam keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika) tercermin jelas dalam Nasihat Kedelapan beliau yang berbunyi: "Taruhlah seluruh harapan dan cinta kasih Anda hanya kepada Allah, dan tidak kepada makhluk hidup mana pun." (Nasihat Pembuka), "Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, dan saling menanggung." (Nasihat Ke-8). "Membaca kembali Nasihat Santa Angela membuat kami sadar bahwa menjadi seorang nasionalis yang pancasilais bisa dimulai dari hal sederhana di sekolah, seperti tidak membeda-bedakan teman dan selalu menjaga kerukunan kelas," tutur salah satu pengurus OSIS usai upacara refleksi.
Untuk Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Santa Angela memberikan teladan luar biasa mengenai kepemimpinan yang melayani, bijaksana, serta penuh rasa hormat terhadap kehendak bersama, bukan dengan memaksakan kuasa. Dalam Warisan Kedua, beliau berpesan: "Bertindaklah dengan bijaksana dan dengan segala kebaikan hati yang dapat Anda usahakan... bertindaklah dengan kasih sayang dan sikap ramah tamah yang manis." (Warisan Ke-2)
Terakhir, Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, selaras dengan ajakan Santa Angela untuk selalu memperlakukan setiap orang secara adil, penuh belas kasih, dan tanpa pilih kasih. Beliau mengingatkan agar para pemimpin dan sesama anggota komunitas memberikan perhatian yang sama rata kepada siapa saja: "Cintailah mereka semua sama rata, janganlah memihak yang satu lebih daripada yang lain... karena mereka semua adalah makhluk Allah." (Warisan Ke-8)
Melalui perayaan Hari Lahir Pancasila yang dikaitkan dengan warisan Santa Angela ini, para siswa Sanmaris diajak untuk menyadari bahwa nilai-nilai Pancasila sudah mengalir dalam darah spiritualitas mereka sehari-hari. Dengan menghidupi semangat Serviam (Saya Mengabdi), diharapkan generasi muda Santa Maria Sidoarjo dapat menjadi motor penggerak pancasilais sejati yang membawa kedamaian, persatuan, dan cinta kasih di tengah masyarakat.