Sidoarjo, Kampus Ursulin. Kalau mendengar bulan Agustus, bawaannya pasti langsung teringat kemeriahan lomba. Entah itu lomba balap karung yang bikin badan pegal atau tarik tambang antarkelas yang selalu seru. Memang sangat menyenangkan bisa merayakan kemerdekaan ke-81 di lapangan sekolah kita, SMP Santa Maria II Sidoarjo. Tapi, coba kita berpikir sejenak setelah asyik tertawa di lapangan tadi. Sebenarnya, "merdeka" bagi anak SMP zaman sekarang itu wujudnya seperti apa, sih? Apakah kemerdekaan itu sekadar kebebasan dari tumpukan PR? Tentu maknanya jauh lebih dalam.
Sebagai anak muda zaman sekarang, kita sudah tidak perlu lagi repot-repot mengangkat bambu runcing. Penjajah kita sekarang sudah berubah wujud. Bentuknya bisa berupa rasa malas yang luar biasa saat harus menyelesaikan tugas. Godaan menggulir media sosial berjam-jam tanpa henti juga merupakan bentuk penjajahan modern. Terkadang penjajah itu bahkan berbentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar. Merdeka hari ini artinya kamu punya kendali penuh atas dirimu sendiri.
Daripada sekadar menjadi penonton pasif, cobalah manfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan karya nyata. Misalnya, kamu bisa membuat konten videografi keren yang mendokumentasikan serunya kegiatan sekolah. Kamu juga bisa membuat kampanye kecil-kecilan tentang pentingnya memilah sampah untuk mendukung program Bank Sampah di sekolah. Terlibat aktif dalam menjaga kelestarian ekologi adalah bukti nyata kita mengisi kemerdekaan dengan hal yang sangat positif.
Sebagai pelajar Ursulin, kita sebenarnya sudah dibekali sebuah senjata rahasia bernama Serviam atau pengabdian. Mengabdi itu tidak perlu menunggu kamu lulus sekolah atau menjadi orang dewasa yang sukses. Semangat melayani ini bisa langsung kamu praktikkan dalam keseharian. Saat berkemah bersama teman-teman Pramuka Penggalang, itu adalah medan pengabdianmu. Ketika kamu membantu teman memecahkan sandi yang rumit atau mengatur barisan bentuk angkare, kamu sedang melayani.

Begitu juga saat kamu sibuk menjadi panitia LDKS OSIS di bulan Januari lalu. Lelah menyiapkan acara demi melatih mental kepemimpinan adik-adik kelas adalah wujud nyata Serviam. Kemerdekaan yang ke-81 ini menuntut kita untuk lebih banyak bertindak. Pahlawan zaman dulu rela berjuang berdarah-darah demi mempertahankan negara. Masa kita sekadar disuruh membantu teman piket membersihkan kelas saja masih hitung-hitungan?
Membahas hari kemerdekaan tentu tidak bisa dipisahkan dari tradisi gotong royong bangsa Indonesia. Menariknya, jauh sebelum negara ini berdiri, Santa Angela Merici sudah memberikan pesan yang sangat sejalan. Beliau berpesan agar kita senantiasa menghidupi semangat Insieme. Kita semua diajak untuk hidup dalam keserasian, bersatu padu, dan saling terikat satu sama lain dengan cinta kasih.

Coba bayangkan suasana latihan paduan suara saat sekolah kita mempersiapkan diri untuk FESPA atau Brawijaya Choir Festival. Kalau setiap anak sengaja bernyanyi paling keras demi menonjolkan diri sendiri, harmoninya pasti akan hancur berantakan. Bernyanyi butuh kebersamaan dan kerelaan untuk menekan ego pribadi demi menghasilkan suara yang indah. Prinsip yang sama persis juga berlaku dalam kehidupan pertemanan kita di sekolah.
Kita tidak mungkin bisa maju jika masih suka memilih-milih teman pergaulan. Bersatu dan saling peduli akan membuat kita menjadi komunitas pelajar yang kuat. Hal ini sama persis dengan perjuangan panjang para pahlawan saat menyatukan keberagaman Nusantara. Santa Angela juga berpesan agar kita selalu terbuka dan bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Sebagai anak muda yang hidup berdampingan dengan AI, kita harus cerdas memanfaatkannya tanpa kehilangan adab dan empati.

Usia 81 tahun bagi sebuah negara jelas bukan waktu yang singkat. Indonesia sudah berjalan jauh, dan kitalah pemegang tongkat estafet untuk melangkah ke depan. Setelah lelah dan asyik merayakan lomba 17-an, bawalah semangat pantang menyerah itu ke dalam ruang kelas. Jadilah anak muda yang berani mengambil tanggung jawab dan terus menghidupi nilai Serviam di mana pun kalian berada. Dirgahayu ke-81, Indonesia! Sekarang giliran kita untuk membuktikan diri.