News &
Updates

News Image

Share

Suara Anak SMP Juga Berdampak!
30 September 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin — Selama pekan ketiga September 2026, suasana di SMP Santa Maria II Sidoarjo terasa berbeda. Siswa dari kelas 7, 8, dan 9 tidak hanya belajar seperti biasa di dalam kelas. Sebanyak 161 siswa mengikuti proyek kokurikuler 1 yang diberi nama “Suara Pemuda untuk Negeri” pada tanggal 21–25 September 2026.

Proyek ini merupakan kerja sama antara mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila. Kegiatan tersebut dibuat agar siswa tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga belajar melihat persoalan yang terjadi di lingkungan mereka, menyampaikan pendapat, dan mencari solusi dengan cara yang baik.

Pada Senin, 21 September 2026, kegiatan dimulai dengan diskusi kelompok. Siswa diminta mengidentifikasi berbagai persoalan yang mereka temui di sekitar rumah maupun sekolah. Dari diskusi itu, muncul sejumlah topik, seperti sampah plastik yang masih ditemukan tidak pada tempatnya, perundungan (bullying) di media sosial, siswa yang kurang sopan, serta berita bohong (hoax) yang beredar di grup percakapan.

Setiap kelompok kemudian membahas dampak dari masalah yang dipilih dan mencoba mencari solusi yang mungkin dilakukan. Mereka juga menyusun pertanyaan untuk wawancara dan berlatih bersama guru pendamping. Latihan ini menjadi persiapan sebelum mereka mengikuti kunjungan ke media.

Kegiatan pada Selasa, 22 September 2026, menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan siswa. Mereka mengikuti safari media dengan berangkat bersama menggunakan belasan angkutan umum menuju Graha Pena Jawa Pos di Surabaya.

Di sana, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia media secara lebih dekat. Mereka belajar bagaimana membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang mengandung berita bohong (hoax). Selain itu, mereka mendapat penjelasan tentang cara melakukan wawancara dengan narasumber dan menyampaikan informasi agar dapat dipahami oleh orang lain.

Pada Rabu dan Kamis, 23–24 September 2026, siswa mulai membuat karya berdasarkan hasil pembelajaran sebelumnya. Sebelum kegiatan produksi pada Kamis pagi, seluruh siswa dan guru mengikuti senam “Sanmaru Sehat” di lapangan sekolah.

Setelah itu, masing-masing kelompok mulai bekerja sesuai pembagian tugas. Ada siswa yang menulis naskah, menjadi pembawa acara, mengambil gambar, atau mengedit video. Sementara kelompok lain mencoba membuat siaran berita, ada juga yang memilih menulis artikel opini.

Guru pendamping tetap terlibat selama proses tersebut. Mereka memberikan masukan, terutama terkait isi, penggunaan bahasa, dan ketepatan informasi sebelum karya diselesaikan.

Rangkaian kegiatan ditutup pada Jumat, 25 September 2026, melalui gelar karya. Ruang-ruang kelas digunakan sebagai stan untuk memamerkan hasil kerja setiap kelompok. Melalui kegiatan gallery walk, siswa berkesempatan mengunjungi stan kelompok lain dan melihat karya dari jenjang yang berbeda.

Di setiap stan, siswa menjelaskan hasil karya mereka kepada teman-temannya. Pengunjung juga diberi kesempatan untuk bertanya dan menuliskan tanggapan pada lembar umpan balik yang sudah disediakan.

Selama lima hari kegiatan, terlihat perubahan pada beberapa siswa yang sebelumnya masih ragu untuk berbicara di depan orang lain. Mereka mulai lebih berani menyampaikan pendapat dan menjelaskan hasil kerja kelompoknya.

Melalui proyek “Suara Pemuda untuk Negeri”, siswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga belajar bekerja sama, menyampaikan gagasan, dan menanggapi persoalan yang ada di sekitar mereka. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan materi pelajaran dengan situasi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.