Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris – Hari Bumi 2026 yang diperingati pada Rabu, 22 April 2026, mengusung tema internasional "Our Power, Our Planet" (Kekuatan Kita, Planet Kita). Peringatan ini menekankan peran penting manusia dalam melindungi lingkungan. Peringatan ke-56 ini berfokus pada aksi nyata, seperti pengelolaan sampah dan pelestarian alam, serta menyoroti krisis iklim yang semakin mendesak. Setiap individu diyakini memiliki kekuatan untuk membawa perubahan positif bagi bumi.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi tersebut, pada pagi hari tanggal 23 April 2026, saya bersama teman-teman tim SIAPP 4 (Siswa Inspiratif Anak Pembaharu Pancasila 4), yaitu Kak Gabby Gunadhi, Kak Cheryl Imanuella, Kak Maria Chrissa, Laurentius Banar, Gabriel Henry, dan saya sendiri, Gerald Samuel, berkunjung ke Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Ini merupakan kunjungan pertama kami ke BSIS. Di sana, kami memperoleh berbagai pengalaman serta wawasan baru yang tentunya akan membantu kelompok kami dalam melaksanakan program Sanmaru BERSERI.

Salah satu petugas di sana, Kak Rere, memberikan informasi mengenai prosedur pengumpulan sampah ke BSIS, pengolahan sampah, cara penjualan, dan lain sebagainya. Ternyata, BSIS memiliki berbagai cabang atau unit yang menjangkau seluruh daerah di Surabaya. Sampah yang terkumpul di unit-unit tersebut nantinya akan dikirim ke Bank Sampah Induk yang berlokasi di Jl. Raya Menur No. 31-A, Manyar Sabrangan, Kec. Mulyorejo, Surabaya, tepatnya di dalam kompleks kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Kak Rere juga menjelaskan bahwa sampah yang terkumpul akan dipilah dan dipadatkan. Sebagai contoh, botol plastik akan dipres untuk mereduksi volume sampah secara drastis sehingga mempermudah penyimpanan dan pengangkutan menuju tempat daur ulang. Selanjutnya, para vendor atau perusahaan akan membeli sampah tersebut untuk diolah menjadi produk baru yang bernilai ekonomis.

Apa tujuan didirikannya BSIS? Berdasarkan informasi yang kami terima, BSIS dibangun untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Saat ini, beban TPA Benowo sangat berat dengan volume sampah mencapai 1.500–1.700 ton per hari yang didominasi oleh limbah domestik masyarakat Surabaya. Meski memiliki kapasitas tinggi, volume tersebut telah melebihi batas maksimal. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya mengurangi beban ini melalui program pemilahan sampah dari sumbernya dan optimalisasi bank sampah.
Berdasarkan penjelasan Kak Rere, BSIS hanya menerima sampah kering (anorganik). Sampah organik tidak dapat dijual di sana karena memiliki kandungan air yang tinggi dan cepat membusuk. Jika sampah organik (seperti sisa makanan, daun, atau kulit buah) dicampur dengan sampah kering, hal tersebut akan menimbulkan bau tidak sedap dan mengundang hama. Oleh karena itu, Bank Sampah Induk hanya menerima material yang dapat didaur ulang seperti plastik, kertas, logam, dan kaca sebagai bahan baku industri.

Sistem di BSIS juga cukup menarik. Nasabah akan diberikan buku tabungan untuk proses konversi sampah menjadi uang. Selain itu, BSIS menyediakan layanan penjemputan untuk sampah dalam jumlah besar dengan biaya yang ditentukan berdasarkan jarak tempuh (per kilometer). Namun, layanan jemput bola ini hanya berlaku untuk area Surabaya.
Kehadiran BSIS sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya membantu sisi ekonomi melalui konversi sampah menjadi uang, tetapi BSIS juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan, pengolahan, dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Penulis: Gerald Samuel Hernanto (Siswa Kelas 7 SMP Santa Maria)
Editor: Nicolaus Henry S. (Guru SMP Santa Maria)