News &
Updates

News Image

Share

Lebih dari Sekadar Teladan, Melainkan Sebuah Cara Hidup
18 Agustus 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris, perayaan Misa Pesta Pelindung Sekolah Santa Maria selalu punya tempat khusus di hati kita semua yang bernaung di bawah Yayasan Paratha Bhakti. Setiap tahunnya, suasana misa dipenuhi oleh wajah-wajah antusias mulai dari para siswa, guru, hingga staf sekolah. Ada nyanyian syukur yang bergema, lilin yang menyala, dan doa-doa bersama. Tapi, mari kita renungkan sejenak. Setelah perayaan misa ini selesai dan kita kembali ke rutinitas kelas yang padat, apakah sosok Bunda Maria hanya berhenti sebagai patung anggun di sudut sekolah atau tokoh suci yang kita doakan saat sedang butuh bantuan saja?

Panggilannya ternyata jauh lebih menantang dari itu. Bunda Maria bukan sekadar teladan yang pasif untuk dikagumi dari jauh. Ia adalah sebuah way of life, sebuah gaya hidup dan cara kita seharusnya menjalani hari-hari di lingkungan sekolah ini.

Coba kita perhatikan salah satu karakter paling kuat dari Bunda Maria: ia adalah sosok pembawa kegembiraan. Kehadirannya senantiasa membawa damai bagi sekitarnya. Di lingkungan sekolah, mempraktikkan gaya hidup pembawa kegembiraan ini sebenarnya sangat sederhana, meski pada praktiknya sering kali kita lupakan. Berapa kali kita datang ke sekolah dengan wajah ditekuk hanya karena ada PR matematika yang sulit? Atau berapa kali kita tanpa sadar malah ikut-ikutan menyebarkan keluhan dan aura negatif di kantin?

Menjadikan Maria sebagai way of life berarti kita berani berkomitmen untuk menjadi sumber energi positif. Tindakannya bisa sesederhana menyapa bapak satpam di depan gerbang dengan senyuman tulus, menyemangati teman yang sedang sedih karena nilai ujiannya kurang memuaskan, atau menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, bukan yang kaku dan penuh ketegangan. Kegembiraan yang sejati itu sangat menular, dan sekolah kita butuh lebih banyak orang yang membawa kegembiraan semacam ini.

Menghidupkan Harapan Melalui Perjumpaan Maria dan Elisabeth Halaman 1 -  Kompasiana.com

Selain pembawa sukacita, Maria adalah sosok yang tidak banyak bicara namun langsung bertindak nyata. Kita tentu ingat kisah ketika ia mengetahui saudaranya, Elisabet, sedang hamil tua dan sangat membutuhkan bantuan. Maria yang saat itu juga sedang mengandung, tidak lantas menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk berdiam diri atau minta dilayani. Ia justru bergegas menempuh perjalanan jauh demi merawat Elisabet hingga masa persalinannya tiba.

Bagi kita semua, kisah ini adalah sebuah pengingat yang tajam. Kepedulian tidak cukup hanya berhenti di lisan lewat kata "kasihan ya" atau sekadar mengirim stiker doa di grup obrolan. Kepedulian ala Bunda Maria adalah kepedulian yang mau repot dan bergerak. Kalau ada teman yang absen berhari-hari karena sakit, menjenguk atau sukarela meminjamkan catatan adalah langkah nyatanya. Kalau ada rekan kerja atau teman sekelompok yang kewalahan dengan tugas kepanitiaan, menawarkan bantuan tanpa diminta adalah wujud nyata pelayanan kita. Maria mengajarkan bahwa melayani sesama sering kali berarti mengesampingkan kenyamanan diri sendiri.

Ada satu detail lagi yang sangat indah dari kisah perjalanan Maria tersebut. Alkitab mencatat bahwa Maria "berangkat dan bergegas menuju daerah pegunungan". Dalam tradisi spiritual kita, pegunungan bukan sekadar letak geografis di peta. Gunung melambangkan tempat keheningan dan perjumpaan dengan Allah.

Maria sangat menyadari bahwa beban yang ia pikul sama sekali tidak ringan. Namun, ia memilih untuk berjalan menuju "pegunungan". Ia membawa setiap beban, kecemasan, dan tanggung jawabnya langsung kepada Tuhan.

Hari-hari kita tentunya tak lepas dari berbagai beban. Ujian yang menumpuk, target kurikulum, gesekan dalam pertemanan, hingga urusan keluarga sering kali membuat kita lelah secara mental dan fisik. Gaya hidup Maria mengingatkan kita untuk tidak mencari pelarian yang salah saat sedang merasa tertekan. Jangan lari ke hal negatif, dan jangan biarkan diri tenggelam dalam amarah. Sebaliknya, berlarilah ke "pegunungan". Temukan keheningan, mampirlah sejenak ke kapel sekolah, dan serahkan segala kelelahan itu kepada Tuhan. Jadikan doa sebagai tempat berlabuh saat ombak tugas dan masalah sedang tinggi-tingginya.

Misa Pesta Pelindung Sekolah kali ini seharusnya menjadi titik balik bagi pergaulan dan cara kerja kita sehari-hari. Bunda Maria mengundang kita untuk meniru cara hidupnya secara nyata. Mari jadikan sekolah ini tempat di mana kegembiraan selalu dibagikan dengan tulus, tempat di mana tangan-tangan kita ringan untuk saling membantu seperti Maria kepada Elisabet, dan tempat di mana kita selalu ingat untuk kembali kepada Allah saat beban terasa terlalu berat.

Jika kita semua menghidupi cara ini, nama Santa Maria tidak hanya sekadar tertulis tegak di depan gerbang, tetapi benar-benar hidup dan bernapas dalam setiap denyut keseharian kita.