Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris, Natal telah kita rayakan dengan penuh sukacita melalui ibadah malam suci, nyanyian lagu Natal, dan kebersamaan keluarga. Namun, setelah lampu-lampu natal dimatikan dan pohon natal disimpan kembali, muncul pertanyaan: apakah semangat Natal benar-benar berakhir? Ibadah Natal hanyalah pintu masuk; semangat sejatinya—pengurbanan Santo Yusuf, penyerahan diri Bunda Maria, dan kesiapan Yesus rela menderita seperti manusia—harus terus hidup sepanjang tahun.
Santo Yusuf, suami Bunda Maria, menjadi teladan pengurbanan tanpa syarat. Ia rela meninggalkan rencana hidupnya sendiri ketika malaikat menyampaikan kehendak Tuhan melalui mimpi. Yusuf bukan pahlawan dramatis; ia hanyalah tukang kayu biasa yang memilih ketaatan diam-diam, melindungi Maria dan Yesus dari ancaman Herodes, serta membesarkan Anak Allah di tengah kemiskinan Nazareth.
Semangat ini mengajak kita hari ini: beranikah kita mengorbankan kenyamanan pribadi? Di tengah rutinitas sehari-hari, seperti orang tua yang rela bekerja keras demi anak atau pekerja yang memaafkan ketidakadilan demi harmoni, pengurbanan Yusuf mengingatkan bahwa kasih sejati lahir dari keputusan hati yang rela kehilangan.

"Fiat mihi secundum verbum tuum"—"Hendaklah dijadikan padaku menurut perkataan-Mu itu"—kata-kata Bunda Maria saat bertemu malaikat Gabriel (Luk 1:38) adalah puncak penyerahan diri total. Seorang gadis remaja dari desa kecil rela menerima misteri Inkarnasi, menghadapi cibiran masyarakat, dan bepergian ke Betlehem dalam kondisi hamil besar. Penyerahannya bukan pasif, melainkan aktif: ia percaya Tuhan akan menyertai setiap langkah.
Dalam konteks kita sekarang, semangat Maria mendorong kita menyerahkan rencana hidup kepada Tuhan. Saat menghadapi tantangan seperti sakit, kegagalan pekerjaan, atau konflik keluarga, bisakah kita berkata "fiat" seperti Maria? Ini berarti mempercayai bahwa Tuhan bekerja melalui kelemahan kita, mengubahnya menjadi berkat bagi orang lain.

Yesus, Putra Allah, turun dari kemuliaan surga untuk menjadi manusia sepenuhnya—lahir di kandang binatang, lapar, lelah, dan akhirnya disalibkan. Inkarnasi-Nya bukan sekadar kunjungan singkat; Ia rela menderita seperti kita: ditolak, dikhianati, dan mati di kayu salib. Seperti dalam Filipi 2:7, "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia."
Semangat ini menantang kita pasca-Natal: relakah kita ikut menderita demi orang lain? Di dunia yang penuh penderitaan—seperti pandemi, kemiskinan, atau diskriminasi—Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati lahir dari persatuan dalam penderitaan. Bukan menghindari sakit, tapi merangkulnya dengan iman, seperti Yesus yang rela mati demi keselamatan kita.
Natal bukan akhir, melainkan awal panggilan untuk menghidupkan semangat ini setiap hari. Pengurbanan Yusuf, penyerahan Maria, dan penderitaan Yesus membentuk trio rohani yang mengubah dunia. Mari kita jadikan tahun baru ini sebagai komitmen: semangat Natal terus menyala, menerangi gelapnya kehidupan sehari-hari.