Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Memasuki akhir masa SMP, siswa kelas IX biasanya mulai disibukkan dengan berbagai ujian. Namun, ada yang berbeda dengan skema ujian kali ini. Bukannya ujian satu per satu di depan kelas, para siswa ditantang untuk mengadakan sebuah "Gelar Pertunjukan" kelompok. Ini adalah bentuk ujian praktik terintegrasi yang menggabungkan berbagai mata pelajaran ke dalam satu proyek besar.
Tujuan utamanya bukan sekadar memberikan nilai, melainkan memberikan pengalaman belajar yang nyata. Sekolah ingin melihat bagaimana siswa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di kelas ke dalam sebuah karya kreatif. Selain itu, ujian ini dirancang untuk mengasah kerja sama tim, tanggung jawab, dan kepercayaan diri siswa sebelum mereka melangkah ke jenjang SMA.
Hampir semua mata pelajaran terlibat dalam proyek ini. Pelajaran Bahasa (Indonesia, Inggris, dan Jawa) diintegrasikan ke dalam penulisan naskah dan dialog. Pelajaran IPA, IPS, dan Matematika diimplementasikan sebagai latar belakang cerita atau manajemen anggaran. Sementara itu, Informatika menangani aspek digital, dan Seni Budaya menjadi motor utama pementasan. Bahkan, nilai Agama dan Pancasila diambil dari cara siswa beretika serta berkolaborasi dalam kelompok.

Secara teknis, prosesnya dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, perencanaan di awal semester untuk menentukan tema dan peran. Kedua, siswa wajib mengisi jurnal individu secara rutin sebagai bentuk refleksi proses belajar mereka. Puncaknya, pada bulan Mei, setiap kelompok mementaskan hasil kerja keras mereka di panggung.
Hasilnya pun luar biasa. Dalam pementasan yang dilakukan pada tanggal 8 dan 9 Mei 2026 di Piazza Santa Angela, seluruh kelompok menampilkan gelar pertunjukan yang mengesankan. Orang tua serta siswa kelas VII dan VIII yang turut menyaksikan menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penampilan mereka.
Salah satu drama berjudul “Aku Kiri, Kowe Kanan” mengisahkan empat sahabat—Arif, Yoga, Wulan, dan Sekar—yang berjanji sejak SMA untuk melanjutkan kuliah bersama di ISI Jogja demi mengejar minat di bidang seni. Konflik bermula saat ayah Arif mendesaknya masuk ke UGM, yang kemudian memicu Arif berbohong dan menggunakan teknologi AI untuk memalsukan foto di sana. Ketegangan memuncak saat rombongan sekolah mereka mengadakan study tour ke Yogyakarta dan Arif mendapati Wulan serta Sekar ternyata mengunjungi UGM secara diam-diam karena memiliki minat yang berbeda. Pertengkaran hebat terjadi karena Arif merasa dikhianati. Di akhir drama, mereka akhirnya sadar bahwa perbedaan cita-cita adalah hal lumrah dan mereka pun saling memaafkan. Drama ini menyampaikan pesan bahwa persahabatan bernilai lebih besar daripada ego masing-masing.

Drama lainnya adalah sebuah drama fantasi bertajuk “Broken Oath”. Drama tersebut mengisahkan Hutan Vanantara di Sylvandara, tempat empat ras elf hidup. Konflik bermula saat ras Tamarel, di bawah pimpinan Morana, enggan bersatu dengan kerajaan Sylvandara lalu memicu peperangan. Plot utama berkisar pada pengkhianatan terhadap sumpah setia demi mengejar kuasa, yang membawa ancaman kegelapan besar. George, seorang ksatria yang gigih, berjuang bersama rekan-rekannya untuk menumpas Morana. Meskipun akhirnya keamanan berhasil dipulihkan, George memilih meletakkan jabatannya sebagai ksatria karena merasa gagal memikul tanggung jawab. Akhirnya, Ratu Elenora melantik Naerith sebagai ksatria baru karena keberanian dan kepemimpinannya. Hal ini menandakan permulaan era kepemimpinan ksatria baru dalam menjaga kedamaian di Sylvandara.

Hasil akhir yang diharapkan bukan hanya pertunjukan yang megah, melainkan juga terbentuknya karakter siswa yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, seperti kreatif, mandiri, dan mampu bergotong royong.
Mengapa menggunakan teknik terintegrasi ini? Alasannya sederhana: efisiensi dan relevansi. Di dunia nyata, masalah tidak pernah muncul tersekat per mata pelajaran. Dengan menggabungkan semuanya, siswa belajar bahwa ilmu itu saling berkaitan. Selain itu, cara ini jauh lebih efektif daripada melaksanakan belasan ujian praktik terpisah yang sering kali melelahkan dan membosankan bagi siswa. Melalui panggung ini, ujian terasa lebih hidup dan meninggalkan kesan mendalam bagi mereka.
Penulis: Nicolaus Henry S. (Guru SMP Santa Maria Sidoarjo)
