Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Setiap bulan April, bangsa Indonesia selalu teringat pada sosok Raden Ajeng Kartini. Sosoknya bukan sekadar simbol kebaya, melainkan lambang keberanian intelektual dan perjuangan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk berkembang. Di SMP Santa Maria Sidoarjo, semangat "Habis Gelap Terbitlah Terang" ini dimanifestasikan secara nyata melalui sebuah ajang, yakni Pemilihan Figlia & Figlio Sanmaru (Putra dan Putri Sanmaru).
Kegiatan Figlia & Figlio ini bukan sekadar ajang unjuk kecantikan atau ketampanan fisik. Lebih dari itu, ajang ini adalah laboratorium kepemimpinan bagi siswa-siswi kelas VII dan VIII untuk menggali potensi terdalam mereka. Jika Kartini berjuang melalui surat-suratnya untuk membuka cakrawala pemikiran perempuan, para peserta Figlia & Figlio berjuang mengasah kemampuan berbicara dan kepercayaan diri untuk menjadi wajah sekolah yang cerdas serta berkarakter.

Salah satu tahapan yang paling menantang dalam pemilihan ini adalah tes debat terbuka. Di sini, alur berpikir kritis siswa diuji di hadapan publik—sebuah teknis yang mengadopsi standar pemilihan duta nasional seperti Puteri Indonesia. Hubungannya dengan semangat Kartini sangatlah erat. Kartini adalah seorang pemikir kritis yang berani mempertanyakan dogma yang menghambat kemajuan. Melalui debat ini, siswa diajak untuk tidak hanya menerima informasi mentah-mentah, tetapi juga mampu menganalisis, menyusun argumen, dan menyampaikannya dengan santun namun tegas. Di era Generasi Alpha yang akrab dengan teknologi namun sering kali gagap dalam komunikasi tatap muka, kemampuan berdebat secara sehat menjadi keterampilan hidup (life skill) yang sangat krusial.
Figlia & Figlio yang terpilih nantinya akan memikul tanggung jawab besar sebagai duta sekolah. Mereka akan menjadi orang pertama yang menyambut tamu resmi sekolah dan menjadi pembawa acara (MC) dalam momen-momen sakral, seperti upacara pelepasan kakak kelas. Tugas ini bukan tentang mencari popularitas, melainkan tentang pelayanan. Inilah titik temu antara semangat Kartini dengan nilai Serviam. Kartini menghabiskan hidupnya untuk melayani bangsanya melalui pendidikan. Begitu pula Figlia & Figlio; mereka terpilih untuk melayani komunitas sekolah, menjadi teladan dalam etika, dan menjadi jembatan komunikasi yang baik bagi sesama.
Setelah proses pemilihan dilalui, terpilihlah Figlia dan Figlio Sanmaru untuk tahun 2026, yakni Gabriella Gunadi dan Marcellino dari kelas VIII A. Mereka menjadi yang terbaik di antara enam pasangan lainnya.

Melalui proses yang panjang ini, sekolah berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki "kedalaman hati". Hasil akhir yang diharapkan adalah munculnya pribadi-pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu bergotong royong—selaras dengan Profil Pelajar Pancasila. Kita ingin melihat anak-anak muda yang bangga dengan identitas dirinya dan berani tampil untuk membawa perubahan positif, persis seperti visi Kartini tentang bangsa yang maju melalui kecerdasan budi pekerti.
Kegiatan Figlia & Figlio Sanmaru ini adalah sebuah refleksi bahwa perjuangan belum usai. Jika dahulu Kartini berjuang melawan keterbatasan akses pendidikan, sekarang siswa-siswi kita berjuang melawan keterbatasan karakter dan kepercayaan diri di tengah arus digitalisasi. Kegiatan ini adalah bentuk penghormatan terbaik bagi semangat Kartini: memberikan ruang bagi putra dan putri terbaik bangsa untuk tumbuh, bersuara, dan berdampak bagi lingkungan sekitar sesuai dengan nilai-nilai VP Campus Santa Maria Sidoarjo. Selamat berproses bagi para calon Figlia & Figlio, jadilah terang bagi sesama!
Penulis: Nicolaus Henry S. (Guru SMP Santa Maria Sidoarjo)