Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris. Pernah mendengar kisah William Kamkwamba? Dia adalah seorang anak laki-laki dari desa kecil di Malawi yang berhasil membangun kincir angin penolong dari barang-barang rongsokan setelah membaca buku di perpustakaan. Kisahnya sangat menyentuh, memperlihatkan bagaimana keterbatasan bisa melahirkan sebuah keajaiban ketika seseorang memiliki kepedulian yang mendalam terhadap tempat tinggalnya. Semangat dari cerita William inilah yang ditiupkan ke dalam ruang kelas melalui kegiatan Kokurikuler 3 bertema Eco Technology. Fokusnya sederhana namun sangat vital bagi kehidupan sehari-hari: menjaga kelestarian air dan tanah.
Bukan cuma duduk manis mendengarkan ceramah atau menghafal teori demi nilai rapor, petualangan belajar ini menantang para siswa kelas 7 dan 8 untuk melompat keluar dari zona nyaman. Proyek yang berjalan dari bulan April hingga Mei ini menuntut mereka untuk membuka mata dan bertanya, "Masalah lingkungan apa yang ada di sekitar kita, dan apa yang bisa kita buat untuk menyelesaikannya?"

Hasilnya? Luar biasa. Selama beberapa minggu, sekolah berubah menjadi laboratorium kreatif tempat para inovator muda bekerja. Menggunakan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di rumah, beberapa kelompok berhasil merancang sistem penjernih air (filter air) mandiri yang mampu menyaring air kotor menjadi lebih jernih. Bagi kelompok yang menyukai tantangan teknologi modern, mereka tidak ragu untuk bereksperimen dengan dunia coding dan komponen elektronik seperti Arduino Uno. Mereka berhasil membuat alat sensor kelembapan tanah otomatis. Jadi, tanaman hanya akan disiram ketika kondisi tanahnya benar-benar kering—sebuah langkah kecil yang cerdas untuk menghemat penggunaan air bersih. Tidak ketinggalan, ada juga kelompok yang mengolah limbah daun kering di sekitar sekolah menjadi briket siap pakai, hingga membuat sistem budidaya ikan yang menyatu dengan perawatan tanaman (aquaponics).



Tentu saja prosesnya tidak selalu mulus dan instan. Ada peluh, diskusi yang sengit saat menyatukan ide kelompok, hingga kegagalan uji coba di awal produksi. Lievenna, salah satu siswi kelas 8, membagikan ceritanya yang seru sekaligus menantang saat membuat briket. "Banyak banget pengalamannya. Waktu kemarin kelompokku bakar-bakar daun, kalengnya sempat kena tanganku dikit jadi panas pol! Tapi dari situ aku jadi belajar banyak hal baru, ternyata daun kering yang biasanya dibuang bisa jadi bahan bakar alternatif," ujarnya.
Sementara itu, bagi Laurentius, siswa kelas 7, proyek ini berhasil mengubah kebiasaan kecilnya di rumah. "Setelah ikut kegiatan kokurikuler ini, saya jadi sadar dan berkomitmen untuk lebih bijak lagi dalam menggunakan air sehari-hari," katanya dengan penuh semangat.
Melalui proses panjang dari merancang ide, mengumpulkan bahan, hingga memamerkan hasil karya mereka, para siswa belajar satu hal penting: bahwa teknologi ramah lingkungan tidak harus selalu mahal dan rumit. Hal yang paling bernilai adalah menumbuhkan rasa peka terhadap lingkungan itu sendiri.
Kegiatan ini berhasil membuktikan bahwa belajar paling menyenangkan adalah saat tangan kita ikut kotor karena bekerja, kepala kita berputar mencari solusi atas masalah nyata, dan hati kita tergerak untuk membawa perubahan. Anak-anak ini mungkin masih remaja, tetapi lewat tindakan nyata dari jemari mereka, mereka sedang belajar menjadi penjaga bumi masa depan.
