News &
Updates

News Image

Share

Masih Perlukah Yesus Membasuh Kaki?
2 April 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris, saat mengikuti misa Kamis Putih di sebuah gereja di Kota Madiun, penulis terhenyak oleh pertanyaan yang disampaikan romo saat homili: “Dengan pengorbanan diri di kayu salib, apakah Yesus masih perlu (merendahkan diri dengan) membasuh kaki para murid-Nya?” Pertanyaan tersebut membawa kita masuk lebih jauh ke dalam tugas kita sebagai pengikut Kristus.

Dalam Injil Yohanes, dikisahkan bahwa sebelum hari raya Paskah dimulai, Yesus berdiri, menanggalkan jubah-Nya, dan mulai membasuh serta menyeka kaki para murid-Nya dengan sehelai kain lenan sebagai bentuk pelayanan yang paling rendah. Meskipun Simon Petrus sempat menolak karena merasa tidak pantas melihat Gurunya merendahkan diri, Yesus menegaskan bahwa pembasuhan tersebut adalah syarat mutlak agar para murid mendapat bagian dalam diri-Nya. Setelah selesai, Yesus menjelaskan bahwa tindakan tersebut adalah sebuah teladan nyata yang wajib diikuti oleh para murid. Sebagai utusan-Nya, mereka harus memiliki kerendahan hati untuk saling melayani satu sama lain, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan dan Guru mereka.

Tindakan pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus merupakan perwujudan mendalam dari Yohanes 13:1, di mana Ia menunjukkan kasih kepada milik-Nya secara total hingga pada kesudahannya. Peristiwa ini sebenarnya bukanlah momen yang terpisah dari peristiwa Golgota, melainkan sebuah "Salib dalam bentuk mikro" yang mengantisipasi pengorbanan-Nya yang lebih besar. Saat Yesus menanggalkan jubah-Nya untuk membasuh kaki para murid, Ia secara simbolis menanggalkan keilahian-Nya demi melayani manusia dalam posisi yang paling rendah. Oleh karena itu, jika Salib adalah puncak dari segala pengorbanan Kristus, pembasuhan kaki ini menjadi penjelasan praktis sekaligus pedoman nyata tentang bagaimana pengorbanan tersebut harus kita hidupi dan aplikasikan dalam keseharian sebagai pengikut-Nya.

Tindakan Yesus membasuh kaki para murid juga merupakan penetapan sebuah perintah yang mengarahkan kita pada tugas sejati sebagai pengikut Kristus. Hal ini bukan sekadar simbol upacara belaka, karena Yesus sendiri menegaskan dalam Yohanes 13:15 bahwa Ia memberikan teladan agar kita berbuat hal yang sama seperti yang telah dilakukan-Nya. Hubungan antara tindakan ini dengan peristiwa Salib menjadi sangat nyata ketika kita menyadari bahwa meskipun pengorbanan di Golgota sulit ditiru secara fisik, membasuh kaki melalui sikap merendahkan diri, melayani sesama yang paling hina, serta memberikan pengampunan adalah cara praktis bagi kita untuk memikul salib tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut ensiklik Deus Caritas Est (Paus Benediktus XVI), Yesus "perlu" membasuh kaki untuk menunjukkan bahwa Ekaristi dan Kasih (Pelayanan) tidak dapat dipisahkan. Tanpa pembasuhan kaki, kita mungkin melihat pengorbanan Kristus di salib sebagai sesuatu yang jauh "di awang-awang". Dengan membasuh kaki, Yesus "membumikan" pengorbanan itu; bahwa mencintai Tuhan berarti siap menjadi pelayan bagi sesama.

Poin refleksi bagi kita adalah jika Yesus yang adalah Tuhan saja bersedia merendahkan diri, maka tidak ada tugas pelayanan yang terlalu "rendah" bagi kita. Pembasuhan kaki adalah "sekolah kasih" sebelum kita memasuki "ujian utama" di Bukit Golgota.

Selamat merayakan Kamis Putih. Tuhan memberkati.

 

Penulis: Nicolaus Henry S. – SMP Santa Maria Sidoarjo