Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Dalam masa pengembangan diri di akhir semester 2, siswa-siswi SMP Sanmar Ursulin Sidoarjo mendapatkan kesempatan belajar bersama para ibu dari organisasi Lovepink. Disajikan secara terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan, kegiatan ini memberikan banyak pengetahuan dalam menjaga kesehatan diri masing-masing siswa.
Topik seputar kesehatan payudara sering kali menjadi hal yang dihindari atau bahkan dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, rasa cemas dan ketakutan tersebut bisa dikurangi secara signifikan apabila kita memiliki pemahaman yang tepat serta berani mengambil langkah pencegahan sejak dini. Di sinilah kehadiran sebuah wadah seperti Lovepink atau Yayasan Daya Dara Indonesia memberikan dampak yang sangat berarti bagi masyarakat luas. Mengusung semangat Share. Love. Care., mereka berupaya keras meruntuhkan stigma yang ada dan mengajak kita semua untuk lebih peduli pada kesehatan tubuh sendiri.
Lovepink bukanlah sekadar organisasi kesehatan yang berjalan secara formal. Komunitas ini hidup dan digerakkan oleh orang-orang berjiwa besar, yang terdiri dari para pejuang (warriors), penyintas (survivors), hingga relawan yang dengan tulus meluangkan waktu dan tenaga mereka. Mereka memiliki visi yang sangat mulia dan jelas, yakni berupaya menurunkan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut di Indonesia. Untuk mewujudkan impian tersebut, mereka sangat aktif turun tangan memberikan edukasi tentang pentingnya deteksi dini, sekaligus merangkul dan memberikan dukungan moral yang hangat bagi para pasien yang sedang berjuang. Dari para ibu yang hadir inilah siswa-siswi tahu bahwa tidak hanya perempuan, melainkan laki-laki pun bisa terkena kanker payudara.

Langkah paling utama yang selalu ditekankan adalah deteksi dini yang sebenarnya bisa kita lakukan sendiri di rumah. Kita tentu familier dengan istilah SADARI, yaitu periksa payudara sendiri yang sangat dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap bulannya. Dengan rutin meraba dan mengenali bentuk maupun tekstur payudara secara berkala, kita akan lebih cepat menyadari jika ada kejanggalan atau perubahan sekecil apa pun. Apabila ditemukan sesuatu yang mencurigakan, langkah selanjutnya adalah melakukan SADANIS, yakni pemeriksaan payudara secara klinis yang dibantu oleh dokter atau tenaga medis profesional. Dua kebiasaan sederhana ini adalah kunci utama agar kita bisa bertindak cepat dan tepat. Para siswa dalam kegiatan ini pun diajari praktik untuk melihat dan memeriksa payudara masing-masing.
Dalam proses membangun kesadaran ini, kita sering kali dihadapkan pada berbagai desas-desus atau mitos yang justru membuat kita semakin bingung. Banyak perempuan merasa khawatir bahwa kebiasaan menggunakan bra berkawat dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Faktanya, dunia medis telah membuktikan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara pemakaian bra berkawat dengan penyakit tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada mitos seputar pemakaian deodoran setiap hari yang dianggap memicu kanker, atau mitos bahwa kafein adalah penyebab utama kanker payudara. Semua anggapan itu sama sekali tidak berdasar.
Satu lagi kesalahpahaman yang cukup berbahaya adalah anggapan bahwa perempuan berusia muda akan selalu aman dari ancaman kanker payudara. Kenyataannya, penyakit ini tidak memandang usia dan bisa terjadi pada perempuan bahkan laki-laki di fase hidup mana pun. Oleh karena itu, kepedulian dan kebiasaan untuk mawas diri harus dimulai sejak dini. Menggantikan mitos dengan fakta yang akurat adalah langkah awal untuk tidak terjebak dalam ketakutan.
Saat sesi tanya jawab dilakukan, banyak siswa yang antusias mengajukan pertanyaan. Salah satu siswa bertanya tentang bagaimana kanker tersebut bisa muncul dan satu lagi bertanya apakah manusia bisa terkena lebih dari satu jenis kanker. Seorang ibu yang menjadi pemateri menjawab dengan sangat lugas dan jelas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beliau menyampaikan bahwa di setiap tubuh manusia ada sel dalam jaringan tubuh dan sel tersebut mengalami mutasi genetik. Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di jaringan payudara mengalami mutasi genetik. Dalam kasus kanker, mereka tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali. Kemudian tentang jenis-jenis kanker yang bisa menjangkit manusia, ditemukan bahwa manusia bisa terkena lebih dari satu jenis kanker. Maka, anak-anak perlu diberi informasi tentang berbagai hal yang bisa memicu kanker, di antaranya adalah faktor hormonal, pola hidup yang tidak sehat, riwayat keluarga, berat badan, dan lain-lain.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan payudara adalah bentuk tanggung jawab dan wujud kasih sayang kita terhadap anugerah hidup ini. Dengan berbekal informasi yang benar dan pemeriksaan yang rutin, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menginspirasi orang lain di sekitar kita. Ingatlah selalu bahwa deteksi dini adalah penyelamat kehidupan.