News &
Updates

News Image

Share

Merajut Jembatan Masa Depan, Sebuah Catatan Inspiratif dari APUEC 2026 Jakarta
31 Maret 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris, kota Jakarta baru saja menjadi saksi berkumpulnya para pendidik Ursulin dari seluruh penjuru Asia Pasifik dalam acara Asia Pacific Ursuline Education Conference (APUEC) 2026. Berlangsung dari tanggal 2 hingga 6 Maret 2026, konferensi ini mengusung tema yang sangat menyentuh hati: "Living Angela’s Spirit: Building Bridges for the Future”.  Bukan sekadar pertemuan formal, APUEC 2026 menjadi ruang refleksi mendalam tentang bagaimana semangat Santa Angela Merici tetap relevan di tengah dunia yang terus berubah cepat.
Salah satu poin unik yang dibagikan dalam konferensi ini adalah filosofi kata "LISTEN" (mendengarkan) dan "SILENT" (hening) yang ternyata memiliki susunan huruf yang persis sama. Sr. Patricia Agnes Andrew, OSU, menekankan bahwa jembatan masa depan yang sejati tidak dibangun dengan semen atau baja, melainkan melalui hati yang mau mendengarkan secara mendalam dalam keheningan.  Pendidik masa kini diajak untuk mempraktikkan "keramahtamahan spiritual"—sebuah tindakan memberikan perhatian penuh kepada siswa agar mereka merasa berharga, bukan sekadar objek untuk "diperbaiki". 

Ratih Ibrahim


Konferensi ini juga sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang. Psikolog Ratih Ibrahim membahas fenomena "Brain Rot" atau penurunan kemampuan kognitif pada generasi muda akibat paparan layar dan stimulasi digital yang berlebihan. Sebagai solusi, para pendidik didorong untuk mengajarkan "toleransi kebosanan" melalui refleksi dan aktivitas fisik demi memulihkan kesehatan mental siswa. Hal ini diperkuat dengan materi dari Dr. Wilasa Vichit-Vadakan tentang teknik Deep Listening melalui proses 3R: Receive (menerima), Reflect (merefleksikan), dan Respond (menanggapi). 
Bapa Kardinal Keuskupan Agung Jakarta turut memberikan pesan yang menyejukkan. Beliau mengingatkan bahwa menjadi murid Yesus yang kekinian berarti berani menjadi "Garam dan Terang". Kekudusan bagi seorang pendidik bukan berarti menarik diri dari dunia, melainkan menjalankan tugas mengajar dengan penuh kasih, integritas, dan sukacita, terutama di era post-truth yang penuh dengan misinformasi. 

Dr. Wilasa Vichit-Vadakan 


Materi konferensi menyentuh isu era post-truth dan dampak digital secara umum, sebagai latar mengapa sangat diperlukan mendengarkan secara empati dewasa ini oleh para pendidik. Era post-truth digambarkan sebagai zaman di mana emosi mengalahkan fakta, hoaks menyebar cepat, dan narasi manipulatif mendominasi. Ini terkait langsung dengan sesi mental health yang membahas "Brain Rot" dari paparan digital berlebih, yang melemahkan fokus dan kesejahteraan generasi muda. Reynard Misae Ananta menyajikan materi bahwa media sosial adalah alat ganda—bisa jadi jebakan algoritma sekaligus bisa menjadi guru bagi mereka. 
Di penghujung acara, para peserta diingatkan kembali oleh pesan Santa Angela: "Lakukan sesuatu, bergeraklah, percaya diri, ambil risiko, dan bersiaplah untuk kejutan besar dari Tuhan!" Para pendidik Ursulin bukan hanya pengajar, tapi pendamping yang hadir, mendengar yang tak terucap, dan berani mengambil risiko demi harapan masa depan. Konferensi ini memperkuat jejaring Asia Pasifik dan melahirkan komitmen kolektif untuk pendidikan transformasional.
APUEC 2026 telah selesai, namun perjalanan membangun jembatan hati untuk masa depan baru saja dimulai.


Sumber materi lengkap, silakan kunjungi laman resmi: https://apuec2026.ursa.sch.id/resources 

Penulis : Nicolaus Henry S - SMP Santa Maria Sidoarjo