Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris — Bulan Mei bagi kita, umat Katolik di Keuskupan Surabaya, bukan sekadar rutinitas mendaraskan doa Salam Maria di lingkungan atau stasi. Pada tahun 2026 ini, kita diajak menyelami sesuatu yang lebih mendalam: bagaimana menjadi murid Kristus yang dewasa melalui kacamata "Panca Tugas Gereja". Jika menyimak setiap bagian penegasan dalam bahan pendalaman iman Bulan Maria tahun ini, kita akan menemukan benang merah yang sangat kuat tentang bagaimana seharusnya iman itu dihidupi.
Segalanya bermula dari Koinonia atau persekutuan. Dalam penegasan pertemuan pertama, kita diingatkan bahwa menjadi Katolik tidak bisa sendirian. Bunda Maria adalah teladan pribadi yang selalu hadir dalam persekutuan para murid. Di tengah dunia yang semakin individualis, persekutuan lingkungan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk saling menguatkan. Tanpa persekutuan yang hangat, tugas-tugas Gereja lainnya hanya akan menjadi beban organisasi belaka.

Namun, persekutuan yang kuat tanpa dasar firman akan menjadi kosong. Di sinilah Kerygma (Pewartaan) masuk. Penegasan pada bagian ini menekankan sikap "Fiat" Maria—terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Mewartakan Injil bukan berarti kita harus berkhotbah di mimbar. Bagi umat awam, pewartaan yang paling nyata adalah melalui cara hidup yang mencerminkan nilai-nilai Injil. Kita diajak untuk membiarkan Sabda Tuhan bergema dalam keputusan-keputusan kecil kita sehari-hari.

Iman yang didengar melalui Sabda itu kemudian dirayakan dalam Liturgia. Maria adalah wanita pendoa, baik saat bersyukur dalam Magnificat maupun saat berdiri teguh di bawah kaki salib. Penegasan dalam bagian liturgi mengingatkan kita bahwa doa dan sakramen, terutama Ekaristi, adalah "bahan bakar" bagi jiwa. Tanpa kehidupan doa yang mendalam bersama Bunda Maria, pelayanan kita akan cepat layu karena kita mengandalkan kekuatan diri sendiri, bukan kekuatan Tuhan.

Buah dari doa dan pewartaan itu harus terwujud dalam bentuk Diakonia atau pelayanan. Belajar dari Maria yang bergegas mengunjungi Elisabet, kita diingatkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Pelayanan tidak harus muluk-muluk; hal itu bisa dimulai dari kepekaan terhadap tetangga yang sakit atau warga lingkungan yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Diakonia adalah cara kita menjamah luka-luka dunia dengan kasih Kristus.

Puncaknya adalah Martyria atau kesaksian. Menjadi saksi Kristus di zaman sekarang berarti berani tampil beda demi kebenaran. Maria menjadi saksi setia hingga akhir. Penegasan terakhir ini mengajak kita untuk tidak malu menunjukkan identitas kekatolikan kita melalui integritas kerja dan kejujuran dalam bermasyarakat.
Kelima aspek ini—Koinonia, Kerygma, Liturgia, Diakonia, dan Martyria—bukanlah kotak-kotak yang terpisah. Kelimanya adalah satu ekosistem. Kita berkumpul (Koinonia) untuk mendengarkan Sabda (Kerygma), yang kemudian kita rayakan dalam doa (Liturgia). Kekuatan dari doa itu mendorong kita untuk menolong sesama (Diakonia), dan seluruh rangkaian hidup itu akhirnya menjadi kesaksian yang hidup (Martyria) bagi orang lain.
Bunda Maria telah menjalankan kelimanya dengan sempurna. Melalui pendalaman iman tahun ini, kita diajak untuk tidak hanya mengagumi Maria, tetapi juga meniru langkahnya. Mari kita jadikan lingkungan kita bukan hanya tempat berdoa Rosario, melainkan sebuah "sekolah" tempat kita belajar menjadi Gereja yang utuh: yang saling mengasihi, tekun mendalami Sabda, rajin berdoa, murah hati melayani, dan berani bersaksi. Dengan begitu, kita benar-benar menjadi murid Kristus yang dewasa dan bertanggung jawab bagi paroki kita.
Penulis: Nicolaus Henry S. (Guru SMP Santa Maria Sidoarjo)