News &
Updates

News Image

Share

Pulih dan Bertumbuh: Menghadapi Krisis Diri dan Relasi Orang tua - Anak di Era Digital bersama Hestios Centre
31 Maret 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Keluarga merupakan fondasi utama bagi pembentukan karakter dan ketahanan emosional seseorang. Di tengah derasnya arus digital yang kerap menciptakan jarak emosional antaranggota keluarga, rekoleksi peserta didik kelas 7 bersama orang tua diadakan untuk memperkuat relasi dan semangat Serviam. Kegiatan bertema “Pulih dan Bertumbuh: Menghadapi Krisis Diri, Relasi, dan Pribadi di Era Digital” ini berhasil menyatukan siswa dan orang tua kelas VII di Piazza Santa Angela dan Aula SMP pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Era digital membawa tantangan unik bagi keluarga modern. Gawai yang seharusnya memudahkan komunikasi justru sering menciptakan kesepian emosional, terutama pada remaja yang rentan mengalami krisis diri seperti depresi, kecanduan digital, atau perilaku merugikan diri sendiri. Orang tua yang sibuk bekerja dan anak yang tenggelam dalam dunia maya sering kali merasa jauh meski hidup di bawah satu atap.

Rekoleksi ini mengambil inspirasi dari Filipi 2:1–2 yang menekankan kesatuan hati dalam kasih. Kegiatan ini dirancang untuk memulihkan relasi keluarga melalui refleksi, dialog terbuka, dan komitmen bersama, sejalan dengan nilai-nilai Serviam: Cinta dan Belas Kasih, Persatuan, serta Pelayanan. Sebanyak 186 peserta diajak merefleksikan peran keluarga sebagai tempat untuk pulih dan bertumbuh.

Secara umum, kegiatan ini bertujuan untuk menghayati nilai-nilai Serviam dalam dinamika keluarga digital. Pertama, orang tua diajak untuk hadir secara emosional, memahami dunia anak tanpa penghakiman (judgement), dan memberikan pendampingan yang relevan. Kedua, membangun kepercayaan, saling menghargai, serta keterbukaan antaranggota keluarga. Terakhir, menjembatani harapan orang tua dengan keinginan anak melalui dialog iman, serta mendorong setiap anggota keluarga untuk melayani dengan sukacita.

Kegiatan siswa diawali dengan literasi dan refleksi yang dipandu oleh pemateri di Aula SMP. Mereka diajak mengenal orang tua dari perspektif baru, serta menggali harapan dan beban yang dipendam. Aktivitas kreatif seperti menggambarkan atau menuliskan ekspektasi orang tua membantu siswa memahami bahwa tekanan sering kali lahir dari kasih, meski terkadang terasa berat.

Secara bersamaan, di tempat yang berbeda yakni di Piazza, orang tua mengikuti seminar interaktif bersama Andhika Alexander Repi, M.Psi., Psikolog dari Universitas Widya Mandala dan Hestios. Materi mencakup tantangan remaja di era digital, dampak minimnya peran orang tua, dan strategi pendampingan efektif. Psikolog tersebut membahas bagaimana orang tua bisa menjadi sahabat anak—bukan sekadar pengawas—melalui empati dan keterbukaan, guna mewujudkan nilai Serviam “Cinta dan Belas Kasih” serta “Totalitas”.

Puncak kegiatan rekoleksi ini adalah rekonsiliasi di Piazza Santa Angela. Orang tua dan anak dipertemukan dalam ruang refleksi yang mendalam. Aktivitas sederhana namun sarat makna dilakukan: orang tua menyisir rambut anak sambil menyampaikan motivasi, saling terbuka tentang kekurangan, dan belajar menerima satu sama lain. Sesi ini ditutup dengan penulisan komitmen keluarga yang berfokus pada pertumbuhan iman bersama Tuhan.

Bagi pendidik Ursulin, rekoleksi ini mengingatkan kembali bahwa “kehadiran” lebih penting daripada perfeksionisme. Orang tua pun belajar bahwa kasih nyata lebih kuat daripada prestasi akademik. Krisis remaja sering kali lahir dari miskomunikasi; oleh karena itu, diperlukan dialog dua arah, bukan sekadar instruksi sepihak. Orang tua yang bersedia mendengar perspektif anak akan menciptakan rasa aman untuk keterbukaan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah iman sebagai jembatan. Komitmen berbasis iman akan mengikat keluarga melampaui konflik harian, sementara doa dan pelayanan bersama akan memperkuat ketahanan spiritual.

Di era ketika jumlah suka (like) di Instagram lebih didambakan daripada pelukan orang tua, rekoleksi ini mengingatkan esensi keluarga bahwa selalu ada harapan untuk pulih dan bertumbuh. Dengan semangat Serviam, orang tua dan anak belajar berjalan bersama, menghadapi dunia digital bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk saling menguatkan. Kegiatan ini membuktikan bahwa relasi keluarga tetap relevan di abad ke-21. Ketika orang tua hadir dengan hati terbuka dan anak merasa diterima, krisis diri akan sirna dan digantikan oleh harapan. Rekoleksi di Piazza Santa Angela menjadi momen bagi 186 jiwa untuk pulih dan bertumbuh dalam kasih.

Penulis: Nicolaus Henry S. - SMP Santa Maria Sidoarjo